Ming. Sep 20th, 2020

Kades Singasari Di Panggil Penyidik KPK Terkait Kasus Gratifikasi Mantan Bupati Bogor

News Investigasi86.Jakarta :

Kasus grafitikasi dan Pemotongan uang yang dilakukan oleh mantan Bupati Bogor Rahmat Yasin periode 2008-2014,kini mulai di dalami oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan memanggil beberapa pejabat di pemerintahan Kabupaten Bogor sebagai saksi,diantaranya yang sudah di panggil adalah Kepala Desa Singasari kecamatan Jonggol ID Cakra pada hari Kamis 6 Agustus 2020.

PLT Jubir KPK Ali Fikri menjelaskan bahwa pemanggilan  Idi Sujana Cakra terkait ini pembelian ratusan hektare lahan yang berada di Desa Singasari dan Desa Cibodas, Kecamatan Jonggol. Kades Singasari diduga kepada siapa saja aliran uang korupsi tersebut.

Sebelum pemanggilan Cakra, pada hari Rabu tanggal 5/8/2020 kemarin, penyidik KPK juga telah memanggil M. Mauldi, seorang pegawai swasta, untuk menjadi saksi kasus ini.

Terkait belum ditahannya RY oleh penyidik KPK walaupun sudah ditetapkan menjadi tersangka, Ali menjelaskan  bahwa RY pada tanggal 17 Juli lalu telah mengembalikan uang sebesar Rp 8,9 miliar ke KPK.

“Penyidik mengonfirmasi keterangannya terkait adanya pengembalian uang sebesar Rp 8,9 miliar oleh tersangka RY kepada KPK,” kata Ali 17/7. Plt juru bicara KPK juga mengatakan bahwa tim penyidik akan kembali memanggil dan memeriksa Rachmat Yasin guna untuk mendalami pemeriksaan tindak pidana yang diduga dilakukan oleh RY.

“Penyidik KPK akan melakukan pemeriksaan kembali untuk mendalami peran tersangka RY dalam dugaan Tindak Pidana Korupsi tersebut,” Ucap Ali.

“Status Rachmat Yasin, saat ini adalah Tersangka Luar Tahanan KPK dan bisa menjadi Tersangka Tahanan KPK.”imbuhnya

Sebelumnya, penyidik KPK telah menetapkan Rachmat Yasin sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dan gratifikasi yang kedua kalinya pada hari Kamis 25 Juni 2019. Dalam kasus suap, Rachmat Yasin diduga meminta, menerima atau memotong pembayaran dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebesar Rp. 8.931.326.223.

Rahmat Yasin diduga menerima gratifikasi berupa tanah seluas 20 hektare di Jonggol, Kabupaten Bogor. RY juga memperoleh gratifikasi mobil Toyota Vellfire senilai Rp 825 juta.

Gratifikasi tersebut diduga berhubungan dengan jabatan tersangka, yang seharusnya dilaporkan RY ke KPK dalam waktu paling lambat 30 hari kerja, namun tidak dilakukan olehnya.

Kronologi penerimaan gratifikasi berupa tanah seluas 20 hektare, Rachmat sengaja meminta kepada bawahannya untuk memeriksa satu bidang tanah seluas 350 hektare.Yang mana di ketahui Pemilik tanah tersebut hendak membangun pesantren di tanah tersebut.

“Pada tahun 2010 seorang pemilik tanah seluas 350 hektare, yang terletak di Desa Singasari dan Desa Cibodas, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, ingin mendirikan Pondok Pesantren dan Kota Santri. Pemilik tanah berencana akan menghibahkan tanahnya seluas 100 hektar agar pembangunan pesantren terealisasi,” jelas Ali Fikri kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Rachmat Yasin baru saja bebas pada 8 Mei 2019 setelah menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin Bandung.
Rachmat saat itu divonis 5 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp300 juta dengan kasus telah menerima suap senilai Rp 4,5 miliar guna untuk memuluskan rekomendasi surat tukar menukar kawasan hutan atas nama PT Bukit Jonggol Asri seluas 2.754 hektare.

Dalam Kasus terbarunya, Rachmat Yasin disangkakan melanggar pasal 12 huruf f dan pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan Korupsi juncto pasal 64 ayat (1) KUHP.

📝 Tim Investigasi 86.