Reginal Tak Seharusnya Di Jadikan Terdakwa

Reginal Tak Seharusnya Di Jadikan Terdakwa

Jakarta, newsinvestigasi86.com -Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abdul Rauf, SH diduga salah mendakwa terhadap terdakwa Reginal dengan Pasal 263 KUHP, tentang pemalsuan dokumen.

Hal tersebut terungkap dari keterangan saksi Haryo Bimo Aryanto dipersidangan yang mengatakan bahwa terdakwa Reginal menjadi pemenang saham di PT. DCG Indonesia hanya sebagai tercatat namun tidak pernah menyetorkan Modal. Dan terdakwa juga tidak memiliki jabatan serta tidak pernah menerima sesuatu dari perusahaan.

Dalam persidangan Haryo Bimo menjelaskan bahwa terdakwa Reginal tidak memiliki jabatan di PT. DCG Indonesia dan belum pernah menerima pembagian deviden sebagai hasil keuntungan perusahaan sejak PT. DCG Indonesia berdiri tahun 2009 hingga perkara ini sampai ke persidangan.

Dari persidangan terungkap bahwa JPU mendakwa terdakwa Reginal Pasal 263 KUHP berdasarkan akte 02 yang dibuat notaris Lies Safitri. Padahal Akte No.2 itu belum terdaftar di Ditjen AHU, dan Akte itu telah dicabut dari Kemenkumham RI, karena saat diajukan Akte itu belum lengkap sehingga Notaris Lies Savitri selaku notaris yang membuat akta itu menarik akta itu kembali dan dicabut pengajuannya dari Kemenkumham RI.

Yang membuat anehnya lagi, pencabutan akte 02 yang belum disahkan Ditjen AHU itu adalah Roh Jae Chung (pelapor) bersama dengan Haryo Bimo Aryanto. Namun justru akte yang tidak sah itulah sebagai bahan/bukti dari JPU mendakwa terdakwa Reginal.

Jadi Reginal tidak memiliki jabatan apa apa di PT. DCG Indonesia pada akte 02 yang dibuat notaris Lies Safitri itu. Hanya pemegang saham saja. Artinya, terdakwa Reginal tidak menandatangani akte itu sebagaimana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum Abdul Rauf.

Dalam pemeriksaan itu Majelis hakimpun merasakan ada sejumlah kejanggalan, termasuk pemegang saham. Saat hakim bertanya kepada saksi Haryo Bimo Aryanto: apakah terdakwa ada ruangan atau meja dikantor? Yang dijawab, “tidak ada.

“Terdakwa tidak pernah datang kekantor.” Jawab Haryo Bimo.

Jadi untuk apa ada saham Terdakwa ini kalau tidak pernah menerima gaji, atau deviden? Tanya hakim. “Saya tidak tahu yang mulia, yang saya tahu bahwa pemegang saham itu tidak ada yang menyetorkan modal. Adapun alat berat yang dioperasikan PT. DCG Indonesia adalah milik lesing, “ujar Haryo Bimo Arianto.

(Nhd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *