PENGUSIRAN KARYAWAN PT SEKO FAJAR PLANTATION OLEH MASYARAKAT SEKO TERULANG LAGI

PENGUSIRAN KARYAWAN PT SEKO FAJAR PLANTATION OLEH MASYARAKAT SEKO TERULANG LAGI

News Investigasi, Sulteng :
Masyarakat Seko kembali beramai-ramai mencegat dan mengusir tiga orang lelaki yang baru saja tiba menggunakan jasa penerbangan pesawat perintis Susi Air di halaman terminal Bandara Udara Seko pada hari Rabu tanggal 31 oktober 2018.
Pencegatan dan pengusiran itu berawal dari kecurigaan warga, bahwa salah satu dari ketiga orang yang datang tersebut adalah Karyawan atau pekerja dari PT. SEKO FAJAR PLANTATION.

Menurut keterangan Ali salah satu warga Seko saat dihubungi awak media via handphon, mengatakan bahwa ” awalnya Rusmin mencurigai salah seorang dari mereka adalah Karyawan PT. SEKO FAJAR PLANTATION lalu terjadilah komunikasi yang alot dan sedikit bersitegang karena pimpinan rombongan tidak mau mengakui kalau dirinya adalah karyawan PT. SEKO FAJAR PLANTATION. Kemudian datanglah Bripka Frengky. NT, Kepala Pos Polisi Kecamatan Seko menengahi komunikasi itu dan menggiring ketiga orang itu ke kantin Bandara, lalu saya dihubungi via SMS untuk datang menemuinya, setibanya saya di kantin, saya kaget melihat salah seorang yang hadir disitu adalah orang yang saya kenal sebagai karyawan PT. SEKO FAJAR PLANTATION yang pernah nginap di rumah saya, dan setelah saya menyapanya malah dia menyangkal tetapi akhirnya ia mengakui bahwa memang pernah bekerja di PT. SEKO FAJAR PLANTATION namun saat ini sudah tidak lagi. Interogasi terus kami lakukan akhirnya penyangkalan mereka di mentahkan oleh dokumen peta wilayah lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT. SEKO FAJAR PLANTATION yang mereka bawa. Setelah menunjukkan identitas diri (KTP), karyawan PT. SEKO FAJAR PLANTATION ini bernama DWI WAHYONO, lahir di Blitar, 17-03-1949 Alamt : Jln. Bulak Barat IV No. 3, Ds. Klender, Kec. Duren Sawit, Agama : Islam
Pekerjaan : Karyawan Swasta dan dua orang lainnya mengaku karyawan dari perusahaan lain yang di ajak ke Seko
“. Ungkap Awal Ali menjelaskan.

Pada akhirnya, karyawan PT. SEKO FAJAR PLANTATION dan rombongannya hanya di perbolehkan satu malam di Seko.
Mereka numpang nginap di perumahan Bandara Seko, lalu besoknya langsung pulang ke Masamba karena tidak di izinkan masyarakat untuk masuk ke area pemukiman dan tidak ada warga yang siap untuk memfasilitasi mereka melalui jasa ojek dan tumpangan inap karena ada sanksi adat yang telah disepakati dan yang harus diterima jika itu dilakukan warga “, ujar Bripka Frengky. NT via telepon genggamnya ketika di konfirmasi oleh awak media.

Kejadian ini sudah beberapa kali dilakukan masyarakat di wilayah Kecamatan Seko dengan alasan bahwa Masyarakat Seko sangat trauma dengan kehadiran PT. SEKO FAJAR PLANTATION yang telah sekian lama memegang sertifikat HGU lahan sekitar 23.000 ha. yang terdapat pada tujuh desa di wilayah Seko Padang yakni, Desa Embonatana, Desa Lodang, Desa Padang Raya, Desa Padang Balua, Desa Taloto, Desa Hono dan Desa Marante.

Penyebabnya adalah bahwa pihak PT. SEKO FAJAR mulai tahun 1996 telah berkomitmen dengan tokoh-tokoh masyarakat Seko dan pemerintah akan membuka lahan perkebunan kopi dan teh sebagai upaya untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat Seko pada umumnya dan akses jalan darat segera di benahi, Itulah awal mula sertifikat HGU ini di terbitkan. Namun dari tahun ke tahun sampai hari ini masyarakat Seko hanya menuai harapan palsu, karena apa yang di rencanakan dan di janjikan tidak realisasi nya, bahkan berbagai upaya telah dilakukan, upaya hukumpun telah dilakukan pihak pemerintah Kabupaten Luwu Utara agar pihak PT. SEKO FAJAR PLANTATION melepaskan lahan yang diterlantarkan namun pihak PT. SEKO FAJAR PLANTATION terus mempertahankan status sertifikat HGU sekitar 23.000 ha. dengan berbagai alasan pembenarannya.

Hal inilah yang menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat Seko sehingga terbentuklah sebuah kesepakatan untuk menolak sepenuhnya kehadiran pihak PT. SEKO FAJAR PLANTATION dalam bentuk apapun, sehingga siapapun masyarakat Seko yang memfasilitasi kehadiran pihak PT. SEKO FAJAR PLANTATION baik mengantar (melalui jasa ojek di wilayah Kecamatan Seko) ataupun memberikan jasa tumpangan inap akan di beri sanksi adat atau denda sesuai putusan yang telah di putuskan.
( Nurdin .B )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *