Sekilas Wajah Pers Indonesia.

Sekilas Wajah Pers Indonesia.

News Investigasi, Jakarta : Kisah berujung pers dari kegelapan informasi selama 32 tahun berakhir pada tahun 1998.

Usai aksi para pejuang mahasiswa, yang berakhir dengan pergantian rezim penguasa NKRI, terbukalah pintu kebebasan pers. Bebas dalam arti cerdas, cermat dan menganut kode etik, serta sistem praduga tak bersalah ( Presumpsion of innocent ).

Di era orde baru dunia pers sangat jauh berbeda dengan era demokrasi kekinian, pada masa orde baru penguasa dengan sepihak dapat mengintervensi redaksi perusahaan pers, bahkan jika membandal, pemerintah secara paksa akan melakukan pembredelan, pensensoran, dan bahkan pencabutan izin perusahaan.

Saat itu, betapa sulitnya profesi pers mendapatkan informasi terkait kasus-kasus pejabat, petinggi di departemen, dll, sekalipun begitu, tetap masih terdapat wartawan-wartawan pejuang yang rela menghadapi tantangan, ancaman, dan bahkan siap mati demi profesi jurnalistik yang sangat mulia itu.

Sudah tidak terhitung jumlah pahlawan-pahlawan pers yang gugur demi sebuah idealisme, seakan darah mereka ibarat pembakar semangat generasi kita saat ini. ,”Dunia tanpa pers ibarat bumi tanpa lautan,”.

Perjuangan pers bukan sekedar pemenuhan kebutuhan hidup, bukan pula sekedar mencari kekayaan dan jabatan, sekalipun pers sangat mudah untuk mendapatkan kedua hal itu. Namun ada beban misi sejati TUHAN yaitu “KEBENARAN” yang terus-menerus disuarakan melalui karya jurnalistik, setidaknya mampu membangunkan “MEREKA” dari mimpi buruknya.

Pers menghadirkan keseimbangan hidup. Pers bahkan berfungsi menjaga perdamaian dunia, keselarasan kebijakan di berbagai belahan dunia. Sehinga sejarah seorang Jenderal hebat Napoleon pernah berkata ,”Lebih baik aku berhadapan dengan seribu bala tentara perang, daripada 1 orang wartawan,” kira-kira begitu.

Jelas perkataan itu dapat kita pahami arti dan maknanya, konon pers mampu dan cukup berhasil mengangkat opini, menggiring peristiwa kasus, dan memberikan efek pada situasi integrasi bangsa dan dunia.

Intinya, Pers harus diberikan wilayah yang sebebas-bebasnya untuk ber kreasi, bersuara dan menyampaikan informasi yang bersifat penting kepada masyarakat luas dengan tidak di intervensi, atau di intimidasi oleh siapapun.

Terkait cita-cita pers tersebut, pasca kerusuhan 1998 dunia pers pun benar-benar mengalami restorasi. Pemberitaan demi pemberitaan mulai mberikan angin baru mengisi kemerdekaan pers dan arus infomasi yang berimbang dan tajam mewarnai halaman-halaman depan media nasional saat itu, akibatnya perubahan paradigma berfikir masyarakat Indonesia, hingga ke wilayah eksekutif dan dunia lain berubah total, yang kemudian berdampak pada bangkitnya semangat demokrasi nasional, yang kesemuanya berkat dari arus informasi yang di lansir oleh media pers.

Semangat demokrasi dan kemerdekaan pers Indonesia yang ditandai dengan restorasi pada tahun 1999 dengan lahirnya UU Pers No.40 tahun 1999, harus di ingat sebagai sebuah sejarah penting bagi kebangkitan pers nasional. UU Pers No.40 tahun 1999 menjadi sebuah tirai pembatas antara masa kekelaman dan masa kemerdekaan. Sehingga UU Pers merupakan lambang kejayaan dan sekaligus mahkota kemenangan atas perjuangan para pahlawan pers dimasa-masa otoriter dan kekejaman penguasa.

Untuk itu, kita insan pers dimasa kemerdekaan ini, dituntut bertanggung jawab penuh secara moril maupun materil atas tegaknya marwah pers nasional. “Jangan kita gadaikan tongkat komando” pers hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Pakailah mata penamu untuk menulis, goreskan lah kebenaran dengan tinta berwarna merah merekah yang kita tulis dengan mata hati dengan motivasi kejujuran dan pesan-pesan kebenaran.

Bagiku, lebih baik aku mundur dari arena profesi pers, daripada harus berpangku tangan melihat marwah pers dipermainkan dan dijadikan ajang permainan politik transaksional dan kriminalisasi pers dimana-mana kita saksikan setiap hari dengan 1001 alasan. Terkadang, lawan kita yang paling berat dan kejam itu adalah diri kita sendiri.

Untuk itu saya Feri Sibarani yang merupakan seorang wartawan dari media yang tidak populer, namun menulis berita dengan penuh tanggung jawab dan realistis terhadap situasi menghimbau kepada rekan-rekan sejawat, supaya kita sama-sama bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan dunia pers saat ini.

Kita bergerak melakukan kontrol sosial, investigasi, dan komfirmasi semua lembaga, instansi, dan organisasi kemasyarakatan terkait apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan, dan secara khusus kita sampaikan semua keberatan-keberatan kita terkait dugaan-dugaan kriminalisasi terhadap pers yang terjadi atas rekan kita se profesi dan penindakan hukum yang kita duga tebang pilih terhadap para terduga koruptor di provinsi riau.

Selamat berjuang,, dan jaya lah Pers Indonesia, hidup NKRI, Merdeka….!!

(By Feri Sibarani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *